Minggu, 21 Maret 2010

Posted On 23:28 by blogger | 0 komentar


MEMBANGUN KONEKSI BERBASIS IPV6
PADA REDHAT DAN FREEBSD







Haruno Sajati1
1Jurusan Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto
Email: 1jati@stta.ac.id
Abstraksi
Perkembangan dunia telekomunikasi tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang terus mendukung. Baik
teknologi transmisi data maupun teknologi pengolah data penunjang sistem telekomunikasi yang mampu membangun
sistem telekomunikasi yang semakin luas, aman, cepat dan efisien.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, mengakibatkan tidak tersedianya alokasi alamat
protokol IPv4. Beberapa cara dilakukan untuk mempertahankan teknologi IPv4 antara lain penggunaan teknologi
alamat dinamis (Dinamic Host Control Protocol) yang menggunakan kembali alamat-alamat IPv4 yang tidak
digunakan. Akan tetapi penggunaan DHCP tidak lagi efektif karena sudah tidak ada lagi alamat IPv4 yang tidak
digunakan. Cara kedua adalah penggunaan teknologi NAT (Network Address Translation) yang mengijinkan sebuah
host meminjam alamat IP dari host lain yang telah on-line. Permasalahan lain yang timbul dari penggunaan NAT
adalah NAT menghalangi penggunaan beberapa aplikasi Internet. Aplikasi-aplikasi itu antara lain aplikasi komunikasi,
keamanan dan game yang membutuhkan komunikasi dua arah misalnya VoIP (RTP-Realtime transport
Protocol/RTCP Realtime Streaming Protocol), Video confferencing dan Game jaringan (Quake multiplayer). Beberapa
protokol juga tidak dapat melewati NAT antara lain RTP/RTCP yang menggunakan UDP (User Datagram Protokol)
dengan pemberian port dinamik.
Kata kunci: protokol, telekomunikasi, informasi, IP
PENDAHULUAN
Alokasi alamat IPv4 sampai penyedia jasa
layanan Internet adalah salah satu tindakan yang
membantu menghemat spasi alamat IPv4. Tapi di sisi
pelanggan tidak dapat mengganti atau pindah ISP
kecuali harus mengubah alamat IPnya, kejadian ini
akan menyebabkan gangguan pada jaringan. Penyedia
jasa layanan juga tidak dapat mengganti koneksi tulang
punggungnya kecuali harus mengubah alamat mereka
dan alamat pelanggan.
IPv6 mempunyai kemampuan autorenumbering
(penomoran kembali alamat IP secara
otomatis) yang meminimalkan gangguan. Dengan
kemampuan ini, maka pelanggan dapat mengubah
ISPnya dan ISP juga dapat mengganti koneksi tulang
punggung mereka dengan bebas tanpa ada
ketergantungan seperti pada IPv4.
Kebanyakan aplikasi Internet yang
memerlukan keamanan saat ini menggunakan
keamanan pada level transport, yang
diimplementasikan dengan protokol SSL. Hal ini dapat
digunakan untuk mengamankan lalu lintas yang
menggunakan koneksi pada layer transport yang
berorientasi koneksi (lalu lintas TCP), tetapi tidak dapat
digunakan untuk mengamankan lalu lintas yang
connectionless (UDP). IPSEC memungkinkan untuk
mengamankan kedua tipe lalu lintas tersebut baik TCP
maupun UDP.
Saat ini, internet bekerja pada basis usaha
terbaik (best effort) dan kualitas layanan (QoS) di luar
kendali dari pelanggan. User komersial dari Internet
akan meningkatkan kebutuhan jaminan kualitas layanan
(QoS) untuk semua trafik atau trafik-trafik tertentu
sebab tanpa adanya peningkatan dan pemilihan
kualitas, layanan seperti Internet telephony dan Video
tidak dapat dilaksanakan. Kebutuhan akan kualitas
layanan seperti kecepatan membuka halaman web,
internet telephony bekerja pada delay transit yang
maksimum, menjamin adanya prioritas terhadap traffic
mail dan jaringan dengan lalu lintas file-file besar
menggunakan file transfer protokol.
Implementasi QoS pada IPv4 akan
memperoleh fungsi-fungsi dari QoS lebih sedikit
dibandingkan IPv6 karena IPv6 memasukkan field label
flow dengan teliti yang mengijinkan aliran lalu lintas
dapat dibedakan, yang membuat kemungkinan untuk
mengidentifikasikan secara presisi trafik yang
membutuhkan kualitas layanan tertentu.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa IPv4
memiliki banyak keterbatasan antara lain :
1. Jumlah alamat yang semakin sedikit yang
menyebabkan sulit berkembangnya penyedia
layanan Internet (ISP).
2. Tidak dapat mendukung fleksibilitas alamat
yang tinggi.
3. Tidak mampu mendukung alamat private
dengan menggunakan Realtime Transport
Protokol maupun Real Time Streaming
Protokol.
4. Faktor keamanan yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan kesulitan untuk menyediakan
akses kepada pelanggan ketika mereka berada
di luar firewall.
5. Kualitas layanan jaringan yang tidak begitu
bagus dibanding IPv6.
Salah satu alasan untuk berpindah ke IPv6
adalah ketika user yang lain telah berpindah ke IPv6.
Ketika suatu kemunitas telah mengadopsi IPv6, secara
alami akan membuat komunitas lain untuk mengadopsi
IPv6 juga agar kedua komunitas tersebut dapat
berkomunikasi.
Akan tetapi dimungkinkan juga seorang pengguna
akan berkomunikasi dengan dua orang pengguna
dengan melewati router dengan tipe lama tanpa
mengubah struktur jaringan dengan mengunakan
Mekanisme Transisi Automatic Tunneling yang
mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a. Lebih mudah dalam implementasi. Dalam
implementasi tidak memerlukan banyak
komputer, cukup menggunakan komputer
yang sudah ada. Khusus untuk gateway tunnel,
sistem operasi perlu diupgrade menjadi sistem
operasi yang dualstack mendukung IPv6 dan
IPv4.
b. Lebih mudah dalam hal konfigurasi pada
sistem operasi. Dalam konfigurasi tidak
diperlukan script konfigurasi yang rumit,
cukup dengan konfigurasi interface tunnel dan
konfigurasi tabel routingnya saja.
c. Tidak memerlukan server yang melayani
transisi. Dalam implementasi tidak
memerlukan server khusus yang melayani
mekanisme transisinya, enkapsulasi dan
dekapsulasi di lakukan antar gateway tunnel
secara point–to–point
TINJAUAN PUSTAKA
IPv4 telah terbukti tangguh selama ini, namun
terdapat masalah terhadap IPv4 terutama pada
pengalokasian IP tersebut.
Namun solusi seperti NAT tidaklah
menyelesaikan persoalan secara utuh. Ada beberapa
hambatan muncul bila menggunakan NAT, seperti
kesulitan pada aplikasi VoIP, kesulitan pada aplikasi
IPSec, lalu lintas Muticast yang tidak dapat melewati
NAT, dan NAT itu sendiri sebagai single failure box
dimana bila mesin penyedia NAT rusak maka semua
koneksi client dengan internet menjadi terputus.
Penggunaan IPv6 adalah solusi yang tepat
untuk menopang internet sekarang. Banyak keuntungan
yang diambil dari penggunaan IPv6 yaitu : Alokasi
alamat yang lebih banyak, auto configuration address,
Adanya traffic class dan flow label untuk mendukung
aplikasi realtime dan IPv6 mendukung mobile ip, IPsec
dll.
DASAR TEORI
Alamat IPv6 adalah pengidentifikasi
sepanjang 128 bit untuk interface dan sekumpulan
interface. Ada tiga tipe dari alamat IPv6 :
a. Unicast : Pengidentifikasi untuk interface
tunggal. Paket yang dikirim ke alamat unicast
adalah paket yang dikirim ke sebuah interface
yang diidentifikasi oleh alamat tersebut.
b. Anycast : Pengidentifikasi untuk sekumpulan
interface (umumnya milik node yang berbeda).
Paket yang dikirim ke alamat anycast adalah
paket yang dikirimkan ke salah satu dari
sekumpulan interface yang diidentifikasi oleh
alamat tersebut.
c. Multicast : Pengidentikasi untuk sekumpulan
interface (umumnya milik node yang berbeda).
Paket yang dikirimkan ke alamat multicast
adalah paket yang dikirimkan ke semua
interface yang diidentifikasi oleh alamat
tersebut.
Tidak ada alamat broadcast dalam IPv6, fungsi
alamat broadcast digantikan oleh multicast.
Alamat-alamat IPv6 dari semua tipe diberikan pada
interface, tidak pada node. Alamat unicast IPv6
mengacu pada interface tunggal, alamat unicast yang
diberikan pada node tersebut juga digunakan untuk
mengidentifikasi node tersebut.
Semua interface diharuskan untuk mempunyai
setidaknya satu alamat unicast link-local. Satu buah
interface dapat diberikan atau dialokasikan alamat IPv6
lebih dari satu dengan berbagai macam tipe alamat atau
scope. Ada tiga jenis bentuk konvensional untuk
merepresentasikan alamat IPv6 sebagai string teks :
Bentuk yang disukai adalah x:x:x:x:x:x:x:x, x
adalah nilai hexadesimal dari 8 satuan yang setiap
satuan terdiri atas 16 bit.
Contoh :
fedc:ba98:7654:3210:fedc:ba98:7654:3210
1080:0:0:0:8:800:200c:417a
Tidak perlu menulis permulaan nilai nol dalam
setiap kolom (dipisahkan dengan tanda “:”), misalkan
0008 dapat ditulis 8.
Ada beberapa metode dalam mengalokasikan
gaya tertentu dari alamat IPv6, hal ini khususnya untuk
alamat yang berisi string nol bit yang panjang. Untuk
mengidentifikasi nilai nol sepanjang 16 bit dapat
digunakan tanda “::”. Dapat pula digunakan di awal
alamat.
Contoh
1080:0:0:0:8:800:200c:417a : Alamat unicast
ff01:0:0:0:0:0:0:101 : Alamat multicast
0:0:0:0:0:0:0:1 : Alamat loopback
0:0:0:0:0:0:0:0 : Alamat tidak terspesifikasi
Atau dapat ditulis:
1080:::8:800:200c:417a : Alamat unicast
ff01::101 : Alamat multicast
::1 : Alamat loopback
:: : Alamat tidak terspesifikasi
Bentuk alternatif yang kadang-kadang lebih
tepat ketika dihadapkan dengan lingkungan gabungan
dari IPv4 dan IPv6 adalah x:x:x:x:x:x:x:x:d.d.d.d,
dimana x menandakan nilai hexadesimal dari 6 satuan
yang masing-masing terdiri atas 16 bit, dan d adalah
nilai desimal dari 4 satuan yang masing-masing terdiri
atas 8 bit (standar representasi IPv4).
Contoh :
0:0:0:0:0:0:13.1.68.3
0:0:0:0:0:ffff:129.144.52.38
atau dipadatkan menjadi
::13.1.68.3
::ffff:129.144.52.38
Kerumitan pengalamatan ini menjadikan
konsep DNS menjadi sangat dominan. DNS (Domain
Name System) terdiri atas sintak yang digunakan
menspesifikan nama dari entitas dalam internet ke
dalam bentuk hirarki. Data DNS dipelihara dalam
group-group database yang didistribusikan secara
hirarki.
BIND (Berkeley Internet Name Domain)
mengimplementasikan nameserver Internet untuk
sejumlah sistem operasi. BIND versi 9 mendukung
secara penuh pengkonversian nama ke alamat IPv6 dan
alamat IPv6 ke nama. Bind juga menggunakan alamat
IPv6 untuk membuat pencarian ke database DNS ketika
bind tersebut berjalan pada sistem yang dilengkapi oleh
IPv6.
Untuk lookup forward (pengkonversian dari nama ke
alamat IPv6), BIND 9 mendukung record A6 dan
AAAA.
Untuk pencarian kebalikan dari alamat IPv6 ke
nama (reverse lookup), BIND mendukung format baru
yaitu bit string yang digunakan dalam domain ip6.arpa
dan juga mendukung format nibble yang digunakan
dalam domain ip6.int.
METODOLOGI PENELITIAN
Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah kecepatan transfer
data pada protokol versi 6 dengan menggunakan
protokol FTP.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
Sistem Operasi dan Jaringan Komputer, Sekolah Tinggi
Teknologi Adisutjipto.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini
dilakukan dengan cara mengirimkan beberapa data
dengan berbagai ukuran dari komputer host ke
komputer server dan mencatat hasil perhitungan yang
dilakukan oleh protokol FTP baik perhitungan transfer
rate maupun time delay.
ANALISIS
Berikut ini adalah grafik perbandingan
kecepatan transfer data antara IPv6 dan IPv4, yang
dilakukan dengan mengirimkan data dari sebuah host
ke server dengan menggunakan protokol FTP (File
Transfer Protocol).
Grafik Perbandingan kecepatan transfer antara ipv4 dan ipv6 pada protokol ftp dengan metode get
0
5
10
15
20
25
5M 10M 15M 20M 25M 30M 35M 40M 45M 50M 55M 60M 77M 100M 125M
Ukuran (MByte)
waktu (s)
time delay (s) ipv6 time delay (s) ipv4
Pada Grafik diatas, untuk grafik fungsi pengambilan
(GET) data IPv6 dapat diambil persamaan yaitu:
Y = 10.12
X 0.9801
Dengan :
Y adalah waktu tunda
X adalah ukuran data
Sedangkan fungsi pengambilan data pada ipv4 adalah
sebagai berikut :
Y = 10.09
X 0.9859
Dengan :
Y adalah waktu tunda
X adalah ukuran data
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
a. Perpindahan teknologi dari protokol IPv4 ke
IPv6 dapat menambah alokasi alamat sebesar
2128 atau 3.4.1038 alamat.
b. Kecepatan transfer data IPv6 sedikit lebih
rendah dengan perbandingan rata-rata
kecepatan 11 MBps berbanding 10.8807
MBps dibandingkan dengan IPv4 karena
header yang dimiliki oleh IPv6 jauh lebih
besar dibandingkan IPv4.
c. Sistem operasi Linux memiliki transfer rate
yang sangat stabil yaitu 11 MBps dalam
jaringan lokal, yang memudahkan
administrator jaringan mengatur lebar
bandwidth dalam satu jaringan.
d. Sistem Operasi Linux memiliki kecepatan
yang paling optimal dalam pemasangan IPv6
dibandingkan dengan sistem operasi FreeBSD
dan MS Windows 2000 server.
DAFTAR PUSTAKA
1. Somad Wahidi, 2004, “Pengantar IPv6 dan
Implementasinya di Linux”
http://www.ilmukomputer.com
2. Taufan Riza, 2002, “ Teori dan Implementasi
IPv6 Protokol Internet masa Depan”, Elek
Media Komputindo
3. Somad Wahidi, 2004, “Pengantar IPv6 dan
Implementasinya di Linux”
http://www.ilmukomputer.com


 

SAMBEL GORENG Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha